Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

"zymboque's" - nggejobo

Homeand, enjoy for all............Aug 9, 2008
mencari apa saja, dapatkan apa saja, jalani apa saja dengan menjadi apa saja, no problem...!

Kalau saja mau jujur , dua duanya sama saja , bro...!

Taukah kita bahwa agama memang dibangun di atas pondasi irrasionalitas. Maka jangan pernah berharap kita bisa mikirin keberadaanNya, apa yang dikehendakiNya, dengan cara dan atau kebijakan  yang dipilihNya serta sebab musabab yang diciptakanNya. Ujung ujungnya kita akan sampai pada pertanyaan yang gak masuk akal juga. Haruskah kita bertanya " kenapa Tuhan harus ada ? ". Liberarisme dalam agama muncul sebagai bentuk protes dari inobyektifitas agama agama pada sisi pandang dogmatis. Tetapi pada kondisi yang lain, liberalisme dalam agama terbukti tidak bisa menolak kejumudan gaya konsepsi pemikirannya yang justru menguak kemusykilan bahkan kemunafikan para penganutnya.

Langsung saja pada pertanyaan yang paling mendasar, Atas dasar apa kaum liberalis masih "eman" melepas keyakinan terhadap agama yang diyakininya. Sementara semua agama yang ada tidak satupun yang mengusung ajaran kebebasan berpikir sebebas bebasnya. Agama justru mengajari para manusia yang berakal agar tidak tertipu oleh akalnya yang sedari awal telah dikodratkan oleh Tuhan sangat sangat lemah dan terbatas. Maka dari itu mainstrim berpikir kaum agamis tidak pernah bisa terlepas dari keyakinan, kepatuhan dan kepasrahannya pada hukum Tuhan yang diterimanya yakni melalui doktrin para rosul yang diyakini telah membawa referensi substitutif dari Tuhan secara langsung.

Ironis rasanya jika Tuhan yang kita yakini ada yang telah menyampaikan pesan pesanNya melalui rosul yang diutusNya yang juga kita yakini keberadaan serta kebenarannya, tapi di tengah jalan tiba tiba kita meragukan sesuatu bahkan banyak hal, bahwa jangan jangan di antara apa yang telah disampiakan Tuhan dan atau yang dikatakan para Rosul adalah salah karena tidak sesuai lagi dengan koteks kehidupan yang ada sekarang. Lalu kita dengan modal akal pikiran yang kita sadari begitu lemahnya, kemudian mencari cari anapotesa dan berani memutuskan segala sesuatu yang kita yakini lebih rasional, obyektif dan mengena sampai sampai kita berani menyimpang bahkan melawan apa yang pernah dikatakan oleh Tuhan.

Hanya ada dua pilihan, pertama, agamis yakni percaya dan patuh apa kata Tuhan dan Rosul yang diutusNya sesuai keyakinan masing masing. Jika pun ada perbedaan faham atau keyakinan, siapa saja boleh mendiskusikannya dan kembali pada hak masing masing mana yang dipilihnya. Semua agama yang ada sudah mengajarkan bagaimana cara menjalin hubungan baik terhadap sesama manusia meski berbeda dalam paham dan keyakinan atas suatu agama. sementara itu tindakan meleburkan semua agama yang ada dalam satu wadah "liberalisme" adalah tindakan yang bertolak dari prinsip setiap agama yang ada itu sendiri. karena itu pilihan yang kedua adalah, sekalian saja tidak usah percaya lagi bahwa Tuhan itu ada , toh sama saja dengan liberalisme.
 

ReviewSep 12, '08 11:01 AM
for everyone
Category:Other
Pesantren dan Madrasah adalah tempat yang katanya di sana anak anak harus dididik agar nantinya bisa memperoleh bekal ilmu untuk pegangan hidup di masa mendatang. Tapi pada situasi berbeda seorang anak yaitu aku, setiap saat justru lebih senang melihat suasana lain yang menggoda dan menggiurkan angan pikirannya kala itu. Sejak saat itu pula diri ini telah mulai diliputi kegamangan yakni antara pentingnya ilmu sebagai bekal menjalani hidup, ataukah kemudahan yang di depan mata kapan saja bisa kuraih walau tanpa ilmu secuil atau sekata pun. Perasaan bingung kemana harus menentukan arah hidup berlangsung hingga mencapai separuh perjalanan usiaku. Jika ada yang lebih bodoh dari " jahiliyyun", itu adalah aku. Jangankan orang lain, orang orang di sekitar seperti tetangga, sanak saudara bahkan kedua orang tua tak ada satu pun yang terlihat olehku pantas kuhargai. Di mataku semuanya tampak salah dan hanya aku yang benar dan harus dianggap paling benar. Hanya ada dua pilihan, sepaham denganku atau sekalian saja jadi musuhku. Kesombonganku mencapai puncaknya ketika Tuhan pun akhirnya kulawan. Keangkuhan begitu dalam tertanam dalam diriku sehingga walau pun teguran bahkan hukuman Tuhan baik secara langsung maupun tidak, berulang kali kuterima dalam bermacam dan berbagai kepedihan rasa, namun hal itu justru membuatku semakin berani mempersalahkanNya. Padahal aku tahu bahwa terjerumusnya diriku ke dalam jurang penuh duri adalah akibat kebodohan diriku sendiri. Tapi lagi lagi kemunafikan selalu saja menepis kesadaranku akan hal itu. Akal dan perasaanku serasa mati. Kesulitan demi kesulitan selalu saja menderai langkahku dalam menapaki perjalanan dan tahapan hidup hingga pada akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang kini menemaniku sebagai belahan jiwa yang sangat kucintai. Maha suci dan Maha Besar Allah SWT yang memilihkanku seseorang yang sepintas di mataku keliahatan begitu bodohnya. Istriku yang tidak cantik dan hanya bisa sholat sebisa bisanya, tidak pernah berani menyuruh atau melarangku melakukan segala hal yang kumau, karena dia tahu bahwa aku memang tipe orang yang tidak mau diceramahi karena selalu merasa sudah paling tahu banyak hal apalgi jika dibandingkan dengannya. Padahal di depan matanya, setiap hari jelas jelas aku telah menganiaya diriku sendiri dengan tidak pernah mengggubris apa itu aturan, tuntunan apalagi pinggiran batasan.

Tapi siapa sangka..., lambat laun bersamanya, semakin lama sedikit demi sedikit aku mulai merasa bahwa....
Sikap diamnya ternyata adalah cambuk paling perih dan paling panas yang pernah kurasakan.......
Keterbatasan ilmunya ternyata adalah hakikat......
Dan kesabaran yang dimilikinya ternyata adalah " ayat " Allah.....
Mungkin karena ketika aku mendengar kumandang adzan di masjid, telingaku hanya bisa terbuka dari ujung hingga ujungnya, maka akhirnya Allah membisiki jiwaku dengan caraNya yang lain. Ada guru yang dikirimNya dengan pelajaran yang lain pula yang tak pernah kupelajari di madrasah semasa kecilku dulu. Kini aku hanya bisa menanggung malu di hadapanNya. Tak ada lagi yang lebih penting kukejar dan hendak kugapai, karena andai saja Allah masih mau memaafkanku dan terus membimbingku di jalanNya, itu saja aku sudah merasa sangat bahagia melebihi segala galanya,
Semoga..........


Blog EntrySep 9, '08 11:54 AM
for everyone
Tiba tiba saja aku teringat..... bahwa AKU...
Terlahir dalam keadaan tidak membawa apa apa dan tak tahu apa.......
Tumbuh besar mencari segala yang ingin dicari,.......
Tapi tak ada satu pun dapat ditemui.......
Karena setiap pencapaian ternyata hanyalah permulaan........
Selalu ada lagi yang terbayang di depan nan menggiurkan.........
Tak tahu lagi yang mana dosa apalagi takut neraka.........
Padahal dalam angan,sanubari tak mampu menepis fatamorgana..........
Alpa selalu menjadi alasan penyebab utama...........
Sampai kapan.... padahal esok lusa belumlah tentu.......
Sentuhan KelembutanNya membasuh nurani jiwa yang sedang merana...........
Ungkapan syukur menampar muka, hati ini pun mendulang nelangsa................

Betapa semua ini ada karena dikehendakiNya..............
Semua telah diberikanNya , malu rasanya berharap lebih dariNya.............
Oh , senang dan bahagianya..., jiwa ini merasa kembali tak tahu apa apa............

LinkSep 9, '08 11:39 AM
for everyone
Link: http://islamreguler.wordpress.com

Benarkah kita harus marah jika ada orang menyebut diri kita " KAFIR ",
Dan Benarkah kita memang boleh bangga jika ada yang mengatakan bahwa kita adalah " ISLAM ".
Bukankah Islam atau Kafir hanya Allah SWT yang tahu dan berhak menjulukinya.
Benarkah kita telah yakin bahwa Allah selalu melindungi dan menyayangi kita yang ISLAM ini.
Jika benar, lalu kenapa kita harus takut dan malu jika ada orang lain menghina diri kita dengan tuduhan bahwa diri kita adalah kafir.
Tidakkah lebih baik biarlah diri kita hina di mata orang tatapi mulia di mata Allah SWT.
Mengaku jangan jangan diri ini memang masih kafir di hadapan Allah SWT, lalu berserah diri dengan penuh pengharapan agar Allah mau mengampuni kekafiran kita serta tak pernah lupa kita memohon kiranya Allah selalu menuntun kita ke dalam IslamNya adalah lebih baik daripada , dengan bangga kita mengaku telah Islam di hadapan Allah SWT tetapi kita selalu takut kehilangan keislaman diri kita di mata orang banyak.

© 2012 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · API · Help · Sitemap

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.