Kalau saja mau jujur , dua duanya sama saja , bro...!
Taukah kita bahwa agama memang dibangun di atas pondasi irrasionalitas. Maka jangan pernah berharap kita bisa mikirin keberadaanNya, apa yang dikehendakiNya, dengan cara dan atau kebijakan yang dipilihNya serta sebab musabab yang diciptakanNya. Ujung ujungnya kita akan sampai pada pertanyaan yang gak masuk akal juga. Haruskah kita bertanya " kenapa Tuhan harus ada ? ". Liberarisme dalam agama muncul sebagai bentuk protes dari inobyektifitas agama agama pada sisi pandang dogmatis. Tetapi pada kondisi yang lain, liberalisme dalam agama terbukti tidak bisa menolak kejumudan gaya konsepsi pemikirannya yang justru menguak kemusykilan bahkan kemunafikan para penganutnya.
Langsung saja pada pertanyaan yang paling mendasar, Atas dasar apa kaum liberalis masih "eman" melepas keyakinan terhadap agama yang diyakininya. Sementara semua agama yang ada tidak satupun yang mengusung ajaran kebebasan berpikir sebebas bebasnya. Agama justru mengajari para manusia yang berakal agar tidak tertipu oleh akalnya yang sedari awal telah dikodratkan oleh Tuhan sangat sangat lemah dan terbatas. Maka dari itu mainstrim berpikir kaum agamis tidak pernah bisa terlepas dari keyakinan, kepatuhan dan kepasrahannya pada hukum Tuhan yang diterimanya yakni melalui doktrin para rosul yang diyakini telah membawa referensi substitutif dari Tuhan secara langsung.
Ironis rasanya jika Tuhan yang kita yakini ada yang telah menyampaikan pesan pesanNya melalui rosul yang diutusNya yang juga kita yakini keberadaan serta kebenarannya, tapi di tengah jalan tiba tiba kita meragukan sesuatu bahkan banyak hal, bahwa jangan jangan di antara apa yang telah disampiakan Tuhan dan atau yang dikatakan para Rosul adalah salah karena tidak sesuai lagi dengan koteks kehidupan yang ada sekarang. Lalu kita dengan modal akal pikiran yang kita sadari begitu lemahnya, kemudian mencari cari anapotesa dan berani memutuskan segala sesuatu yang kita yakini lebih rasional, obyektif dan mengena sampai sampai kita berani menyimpang bahkan melawan apa yang pernah dikatakan oleh Tuhan.
Hanya ada dua pilihan, pertama, agamis yakni percaya dan patuh apa kata Tuhan dan Rosul yang diutusNya sesuai keyakinan masing masing. Jika pun ada perbedaan faham atau keyakinan, siapa saja boleh mendiskusikannya dan kembali pada hak masing masing mana yang dipilihnya. Semua agama yang ada sudah mengajarkan bagaimana cara menjalin hubungan baik terhadap sesama manusia meski berbeda dalam paham dan keyakinan atas suatu agama. sementara itu tindakan meleburkan semua agama yang ada dalam satu wadah "liberalisme" adalah tindakan yang bertolak dari prinsip setiap agama yang ada itu sendiri. karena itu pilihan yang kedua adalah, sekalian saja tidak usah percaya lagi bahwa Tuhan itu ada , toh sama saja dengan liberalisme.